Senin, 24 Januari 2011

POLIGAMI (SAH DAN TIDAK SAH)


POLIGAMI
(SAH DAN TIDAK SAH)

Prof. DR.Dr. H. Dadang Hawari, psikiater


SEJARAH
1.       Masyarakat Arab sudah melakukan poligami sebelum Islam, tanpa batas jumlah isteri.
2.   Nabi Muhammad saw hidup monogami selama 25 tahun (isteri Siti Khadidjah).
3.   Nabi Muhammad saw menjalani poligami selama 5 tahun dalam keadaan darurat
       perang (isteri pertama Siti Aisyah).
4.   Usai perang turun ayat surat An-Nisaa.
5.   Nabi Muhammad saw kembali monogami (Siti Aisyah).
6.   Nabi Muhammad saw tidak setuju Syaidina Ali melakukan poligami terhadap
      Fatimah puteri Nabi.

Ayat-Ayat
“Dan jika kamu takut  tidak  akan dapat berlaku  adil terhadap (hak-hak)  perempuan yatim (bila kamu mengawininya, maka kawinilah wanita-wanita  (lain) yang kamu senangi : dua, tiga, atau empat. Jika kamu takut  tidak akan  dapat  berbuat  adil, maka (kawinilah) seorang saja,atau budak-budak yang kamu miliki.  Yang  demikian  itu  adalah  lebih  dekat kepada tidak berbuat aniaya”.            (QS. An Nisaa, 4 : 3)

“Dan  kamu  sekali-kali  tidak  akan  dapat  berlaku adil diantara isteri-isteri(mu), walaupun kamu  sangat ingin berbuat demikian,  karena  itu janganlah  kamu  terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain”.
(QS: An Nisaa: 4: 129)

Hadits
“…Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan puteriku, kupersilakan mengawini puteri mereka”.(HR: Bukhari)

“Ada  dua  macam  nikmat  yang  kebanyakan  manusia terperdaya olehnya, yaitu nikmat sehat dan kelapangan”.(HR: Bukhari)

POLIGAMI YANG SAH :

BAB IX (Beristeri Lebih dari Satu Orang)
Pasal 55
          Beristeri lebih dari satu orang pada waktu yang bersamaan, terbatas hanya sampai empat orang isteri.
          Syarat utama beristeri lebih dari seorang, suami harus mampu berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya.
          Apabila syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin dipenuhi, suami dilarang beristeri lebih dari seorang.
Pasal 56
1.       Suami yang hendak beristeri lebih dari satu orang harus  mendapat  izin  dari  Pengadilan  Agama.
2.       Pengajuan permohonan izin pada ayat (1) dilakukan menurut tatacara sebagaimana di atur dalam Bab VIII Peraturan Pemerintah nomor 9 tahun 1975.
3.       Perkawinan yang dilakukan dengan isteri kedua, ketiga atau keempat tanpa izin dari Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum.

Pasal 57
Pengadilan Agama  hanya  memberikan  izin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila:
            a. isteri tidak dapat menjalankan kewajiban           sebagai isteri;
            b. isteri    mendapat    cacad    badan    atau  penyakit yang tidak dapat 
    disembuhkan;
            c. isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Pasal 58
            (1)  Selain syarat utama yang disebut pada pasal 55 ayat
            (2)  maka  untuk  memperoleh  izin  Pengadilan   Agama, harus  pula  dipenuhi 
                   syarat-syarat  yang ditentukan pada  Pasal  5  Undang-Undang  No. 1 Tahun 
                  1974   yaitu:
                  a. adanya persetujuan isteri;
                  b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteri-
                      isteri dan anak-anak mereka.
(2)     Dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 41  huruf b Peraturan Pemerintah
       No. 9 Tahun 1975, persetujuan isteri atau isteri-isteri dapat diberikan secara   
       tertulis atau dengan lisan, tetapi sekalipun telah ada persetujuan tertulis,  
       persetujuan ini dipertegas dengan persetujuan lisan isteri pada sidang
       Pengadilan Agama.
(3)     Persetujuan  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf  a tidak diperlukan bagi seorang
       suami apabila isteri atau isteri-isterinya tidak mungkin diminta
       persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian atau apabila
       tidak ada kabar dari isteri atau isteri-isterinya sekurang-     kurangnya 2 tahun
       atau karena sebab lain yang perlu mendapat penilaian Hakim.

Pasal 59

Dalam hal isteri tidak mau memberikan persetujuan, dan permohonan  izin  untuk  beristeri  lebih  dari  satu orang berdasarkan atas salah  satu  alasan  yang diatur dalam Pasal  55  ayat  (2)  dan  57,  Pengadilan  Agama  dapat menetapkan tentang pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar isteri yang bersangkutan di persidangan Pengadilan Agama,  dan  terhadap  penetapan  ini isteri atau suami dapat mengajukan banding atau kasasi.



POLIGAMI YANG TIDAK SAH :
Perkawinan Dibawah Tangan atau Perkawinan Siri:
diam-diam, sembunyi-sembunyi atau rahasia.
Tidak Sah karena:
a.       Dilakukan secara rahasia
b.       Tidak ada catatan pernikahan (tidak ada Buku Nikah).
c.       Tidak terbuka (tidak dipublikasi)
d.       Merupakan “akal-akalan” dengan mengatas-namakan agama.
e. Merugikan isteri dan anak-anaknya (tidak ada jaminan  hukum)
f.   Tidak konsisten dan tidak istiqomah terhadap agama.
g.  Diragukan niat poligaminya.
h.  Diragukan keaslian identitas dirinya.
i.   Tidak mampu berbuat adil terhadap isteri-isterinya dan  anak-anaknya.
j.   Tidak ada izin dari Pengadilan Agama.
k.  Tidak ada persetujuan dari isteri pertama
l.   Melanggar Undang-undang perkawinan Islam (UU No. 1
     Tahun 1974) yang sudah memuat syariat Islam didalam nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar