Rabu, 21 November 2012

TOPAN BADAI MENGHADAPI MASA REMAJA


TOPAN BADAI MENGHADAPI MASA REMAJA


Masa remaja memang berbeda dari masa kanak-kanak. “Beda dalam hal kemampuan berpikir, hormonal, perkembangan fisik, juga perkembangan sosial emosionalnya,” ungkap Octaviani Indrasari Ranakusuma, Psi, M.Si, dosen Fakultas Psikologi.

Octa, demikian panggilan akrabnya, yang kini tengah menempuh program doktoralnya, juga tak menampik bahwa banyak orangtua yang pusing menghadapi anak-anak yang memasuki usia remaja. “Sejumlah ahli bahkan menyebut masa remaja sebagai masa ‘thunder-and-storm’, suatu masa yang penuh gemuruh layaknya topan badai,” kata Octa.

Meski begitu, Anda tak perlu terlalu khawatir, karena menurut Siti Rahayu Haditono dalam buku Psikologi Perkembangan, sesungguhnya konflik antara orangtua dengan remaja jarang sekali menyangkut sesuatu yang besar atau serius. “Sebetulnya konfliknya tidak betul-betul serius. Dalam sebuah wawancara terhadap 1000 orang remaja dan orangtuanya, perbedaan pendapat antara orangtua dan anak berkisar pada masalah penampilan, pemilihan teman, dan jam pulang pada malam hari,” katanya.

Tapi, bagaimanapun juga, pendampingan dari orang tua tetap diperlukan bagi para remaja ini. Salah satu masalah utama yang seringkali dihadapi orang tua adalah remaja yang MARAH-MARAH SEPANJANG WAKTU. Menurut Katherine Gordy Levine, penulis buku When Good Kids Do Bad Things – a Survival Guide for Parents of Teenagers,  kemarahan remaja adalah salah satu tingkah laku yang tidak bisa Anda ubah. “Ini memang kenyataan yang tidak menyenangkan. Tapi apa pun yang Anda lakukan, sesabar-sabarnya Anda mendengarkan, betapa pun baiknya Anda merespons sikapnya, “perang” ini akan terus berjalan,” ungkapnya.

Levine menjelaskan, kadangkala remaja mencoba menyulut kemarahan pihak lain hanya untuk menutupi perasaannya sendiri, atau sebgai respons atas ketidaknyamanan yang di rasakan.

Lalu, bagaimana cara menghadapi?

Berikut adalah beberapa saran dari para ahli:


1. Coba analisa kemarahannya. Jika itu adalah sesuatu yang masuk akal, cobalah untuk berdiskusi dan membuat perubahan (aturan, misalnya) yang menjadi alasan kemarahannya.

2. Jangan terlalu mengambil hati, terutama jika asal muasal kemarahannya sebenarnya bukanlah pada diri Anda

3. Tentukan kapan waktu bereaksi yang tepat. Jika anak remaja Anda hanya memasang wajah marah, misalnya, biarkan saja. Tapi, ketika ia mulai mengeluarkan kata-kata kasar, atau membanting pintu dengan keras, mungkin itu waktunya Anda merespon (dengan bijak, tentunya) agar “perang” ini tak menjadi makin besar.

4. Minimalkan respons agar Anda tak ikut “terbakar”. Tom Alibrandi, seorang penulis dan konselor menyebutkan 5 kata yang bisa meminimalkan keterlibatan emosi Anda saat “adu mulut” dengan anak remaja Anda. Kelima kata itu ialah: Ya, Tidak, Oh benarkah?, Wow, Terserah kamu deh. Lihatlah apa yang terjadi selanjutnya, untuk menentukan seberapa efektif respons Anda, dan apakah Anda perlu melakukan hal lain.

5. Akui segera jika Anda memiliki kekurangan atau kesalahan.

6. Pertahankan aturan yang Anda buat (khususnya yang menyangkut keamanan dan keselamatan anak Anda. Jam malam, misalnya).

7. Ingatkan terus diri Anda untuk sabar. Fase kemarahan remaja ini akan berlalu, dan ia akan menjadi seorang dewasa yang membuat Anda bangga.