Senin, 24 Januari 2011

DENGAN SEMANGAT BERKORBAN KITA MASUKI PEMBANGUNAN DALAM ERA REFORMASI


DENGAN SEMANGAT BERKORBAN
KITA MASUKI PEMBANGUNAN
DALAM ERA REFORMASI

Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater

     "Hakekat pembangunan adalah
untuk rakyat, bukan rakyat
 untuk pembangunan"

Allahu Akbar 3x,  wa lillahil-hamd!

     Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadlirat Allah swt. atas nikmat dan karunia-Nya sehingga pada hari ini kita sekalian dapat berkumpul untuk bersama-sama menunaikan sholat 'Idul Adha. Salam dan sholawat disampaikan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

     Pada hari ini saudara-saudara kita kaum muslimin dan muslimat dari seluruh penjuru dunia sedang melaksanakan ibadah haji, sementara kita disini dan di tempat-tempat lainnya merayakan Hari Raya Haji itu dengan menjalankan sholat 'Idul Adha yang kemudian diikuti dengan penyembelihan hewan qurban.

     Sebagaimana kita ketahui ibadah haji adalah termasuk rukun Islam yang kelima, wajib hukumnya dijalankan sekali seumur hidup bagi mereka yang mampu. Pada hari yang sama dan 3 hari berikutnya dilaksanakan penyembelihan hewan qurban sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ibadah haji. Peristiwa dan perintah ini telah berusia ribuan tahun silam berkaitan dengan risalah Nabi Ibrahim a.s. sebagaimana Allah firmankan dalam Kitab Suci Al Qur'an.

     Marilah kita sejenak mengkaji beberapa ayat firman Allah swt. yang merupakan rujukan bagi perintah ibadah haji dan berqurban. Allah swt. telah memperingatkan ibadah haji kepada Nabi Ibrahim a.s. sebagaimana firman-Nya dalam surah Al Hajj ayat 26, yang artinya :

"Dan (ingatlah) ketika Kami tempatkan Ibrahim pada tempat Baitullah (dengan firman) : "Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan sesuatu dan sucikanlah rumah-Ku (Ka'bah) untuk orang-orang yang tawaf, orang-orang yang tinggal (i'tikaf) dan orang-orang yang ruku dan sujud (sholat)".

     Selanjutnya seruan Allah swt. kepada seluruh umat manusia sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Hajj ayat 27, yang artinya :

"Dan serulah manusia untuk (melaksanakan) haji, niscaya mereka datang kepada engkau dengan berjalan kaki dan mengendarai unta-unta yang kurus yang datang dari segala penjuru yang jauh".

     Dan perintah menjalankan ibadah haji bagi mereka yang mampu, sebagaimana Allah swt. firmankan dalam surah Aali 'Imran ayat 97, yang artinya :

"Padanya ada tanda-tanda yang  nyata (di antaranya) maqam Ibrahim (tempat berdiri membangun Ka'bah). Dan barang siapa memasukinya, maka amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia karena Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan kesana. Dan barang siapa yang ingkar (terhadap kewajiban haji), maka bahwasannya Allah Maha kaya dari semesta alam".

     Perihal asal muasal qurban hewan sembelihan pada Hari Raya Haji ini, adalah risalah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail a.s., sebagaimana Allah swt. firmankan dalam surah Ashshaaffaat ayat 102-107, yang artinya :

"Maka tatkala anak itu (Ismail) mencapai umur dapat bekerja bersamanya, Ibrahim berkata : "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu? Dia berkata : "Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada engkau, Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar". Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan atas pipinya : Kami memanggilnya :"Hai Ibrahim, sungguh engkau telah benarkan (lakukan) mimpi itu". Sesungguhnya demikianlah Kami beri balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini adalah ujian yang nyata. Dan Kami menebusnya dengan sembelihan yang besar".

     Demikianlah firman-firman Allah swt. yang berkaitan dengan haji dan hewan qurban; dan hikmah apakah yang dapat dipetik dari kesemuanya itu?

 Allahu Akbar 3x, wa lillahil-hamd!

Hadirin yang dimuliakan Allah,

     Syukur Alhamdulillah , dari tahun ke tahun jumlah jemaah haji Indonesia semakin bertambah. Dari segi kuantitas (jumlah) terdapat penambahan yang menggembirakan; demikian pula dari kualitas (mutu) pelayanan terdapat peningkatan. Pengetahuan dan keterampilan manasik haji telah diberikan jauh sebelum para jemaah haji itu berangkat ke Tanah Suci. Kemampuan ummat Islam Indonesia untuk berangkat haji semakin besar; dan yang lebih menggembirakan lagi adalah bahwa mereka yang berhaji tidak hanya berasal dari lapisan masyarakat bawah atau menengah, tetapi juga mereka yang berasal dari lapisan masyarakat atas.

     Akan halnya dengan penyembelihan hewan qurban, hikmah apakah yang dapat dipetik daripadanya? Bila dikaji lebih mendalam, maka qurban yang   kita jalankan dengan menyembelih hewan mengandung makna yang mendalam dari sekedar penyembelihannya itu sendiri. Yaitu,  baik dalam arti syiar Islam maupun dalam arti semangat berqurban itu sendiri.

     Pada Hari Raya Haji, ummat Islam di seluruh dunia menyembelih hewan qurban; hal ini merupakan demonstrasi internasional, menunjukkan kepada seluruh dunia beginilah "qurban" menurut ajaran Islam, yaitu hewan yang diqurbankan dan bukannya manusia! Daging hewan dibagi-bagikan kepada mereka yang kurang/tidak mampu yang sehari-harinya jarang bertemu dengan daging.

     Allah swt. berfirman dalam surah Al Hajj ayat 37, yang artinya :

"Daging-daging dan darahnya itu tidak sampai kepada Allah tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kamu. Demikianlah Allah memudahkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah, atas apa-apa yang Dia berikan petunjuk kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik".

     Sehubungan dengan hal tersebut di atas sengaja dalam khutbah ini dipilih judul DENGAN SEMANGAT BERKORBAN KITA MASUKI PEMBANGUNAN DALAM ERA REFORMASI. Adakah relevansinya dengan pembangunan yang sedang dijalankan, sebab tiada pembangunan tanpa pengorbanan dan sesungguhnya pembangunan adalah untuk rakyat, bukan sebaliknya rakyat untuk pembangunan.

Allahu Akbar 3x, wa lillahil-hamd!

Hadirin yang dimuliakan Allah,

     Adalah Nabi Muhammad saw. tokoh dunia dan panutan berkat bimbingan Allah swt. telah berhasil membangun dan mengangkat derajat suatu bangsa hanya dalam waktu 23 tahun; dari masyarakat jahiliyah berubah menjadi masyarakat yang adil dan makmur dengan ridha Allah swt.

     Pengorbanan Nabi Muhammad saw. menjadi suri tauladan bagi kita semua sebagai Pemimpin selama 23 tahun. Beliau telah berhasil mempersatukan bangsa Arab dan membentuk tatanan kehidupan baru di bidang keamanan, sosial, politik, dan ekonomi; sehingga menjadi landasan tatanan kehidupan Islami, bangsa Arab telah berhasil tinggal landas dan sejarah telah membuktikan hal itu. Begitu besar pengorbanan Beliau dalam membangun tatanan kehidupan baru itu, sampai-sampai pada akhir hayatnya tiada harta benda yang dapat diwariskan.

     Kemerdekaan yang kita peroleh pada tanggal 17 Agustus 1945, tiada lain adalah berkat pengorbanan kita semua. Demikian pula dengan pembangunan yang sedang kita jalani dalam era reformasi ini adalah juga memerlukan pengorbanan. Oleh karena itu hendaknya kita tetap waspada agar dalam proses pembangunan itu dapat dihindari "qurban-qurban" dalam bentuk "dehumanisasi"; dimana nilai-nilai harkat dan martabat manusia tidak lebih darpada "materi". Setiap insan pembangunan terutama para pemimpin hendaknya bertanggung jawab tidak hanya kepada sesama manusia pada zamannya, tetapi juga kepada manusia generasi berikutnya dengan tidak mewariskan kerusakan alam, tatanan sosial, politik dan ekonomi, terutama hutang luar negeri.

     Tanggung jawab itu tidak hanya kepada sesama manusia, namun terutama kepada Allah swt. Maka seluruh pengorbanan yang kita berikan demi pembangunan itu tidak akan sia-sia, manakala kita sekalian beriman dan berniat bahwa segala sesuatunya karena  Allah semata, dan bertanggung jawab kepada-Nya. Bukankah kita sekalian telah berikrar sebagaimana Allah swt. firmankan dalam surah Al An'aam ayat 162, yang artinya :

"Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata-mata hanya untuk Allah seru sekalian alam".

     Bila kita konsekuen dengan ikrar di atas, maka pembangunan yang sedang kita jalani ini benar-benar akan bemanfaat bagi kemaslahatan rakyat; dan kita tidak akan merusak lingkungan hidup maupun sosial demi pembangunan. Dan, tidak mengorbankan rakyat demi pembangunan. Hasil pembangunan hendaknya jangan sampai hanya bisa dinikmati oleh segelintir masyarakat, sementara sebagian besar lainnya masih menderita serba kekurangan dan hidup di bawah garis kemiskinan. Marilah kita menyayangi sesama manusia guna menghindari kesenjangan sosial, sebagaimana hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang artinya :

"Barang siapa yang tidak menyayangi manusia, maka ia tidak akan disayangi oleh Allah".

     Hadis lain menyatakan :

"Tidaklah sempurna iman seseorang yang merasa kenyang dirinya sendiri, sedangkan tetangga dekatnya kelaparan".

Allahu Akbar 3x, wa lillahil-hamd!

Hadirin yang dimuliakan Allah,

     Seringkali kita mendengar bahwa dalam proses pembangunan itu terjadi kebocoran di sana-sini, masih ada saja orang yang zalim menyalahgunakan kepercayaan rakyat dalam melaksanakan amanah yang diberikan. Terhadap mereka yang zalim hendaknya kita berani bertindak, sebab kalau tidak kita semuanyalah yang akan menderita secara kaseluruhan. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah sebagaimana yang diriwayatkan oleh At Tarmidzi, yang artinya :

"Apabila kamu melihat orang yang zalim dan tidak bertindak terhadapnya, maka dikhawatirkan Allah menimpakan siksa yang sifatnya menyeluruh".

     Oleh karena itu, marilah kita ingatkan melalui khutbah ini kepada para pemimpin dan pelaksana pembangunan, bahwa amanah yang diberikan kepada mereka adalah untuk dipertanggung-jawabkan tidak hanya kepada rakyat yang mempercayakannya, tetapi terlebih-lebih tanggung jawabnya dihadapan Allah swt., sebagaimana hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh At Tarmudzi, yang artinya :

"Setiap dirimu adalah pemimpin dan tiap-tiap dirimu akan ditanya dari apa dipimpinnya".

     Dalam proses pembangunan ini hendaknya dijaga kelestarian lingkungan, tetapi kenyataan yang terjadi karena keserakahan mereka-mereka yang zalim telah timbul kerusakan lingkungan hidup (alam). Hal ini sudah diperingatkan oleh Allah swt. dalam firman-Nya sebagaimana  yang tertera dalam surah Ar Ruum ayat 41, yang artinya :

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut dengan sebab perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah akan merasakan kepada mereka sebagian dari apa yang mereka perbuat, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".

Allahu Akbar 3x, wa lillahil-hamd!

Hadirin yang dimuliakan Allah,
     
     Terhadap mereka yang berpola kemewahan dunia dengan tujuan menghalalkan cara, tidak peduli yang haram dan yang halal, serta mengira bahwa semua itu  akan mengekalkan mereka, Rasulullah telah memperingatkan dengan sabdanya sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim (dari Amru bin Auf r.a.), yang artinya :

"Demi Allah! Aku tidak mengkhawatirkan kemelaratan menimpa kamu. Tetapi yang aku khawatirkan ialah bila kemewahan dunia menimpamu sebagaimana orang-orang sebelum kamu ditimpa kemewahan dunia. Lalu kamu berlomba-lomba (dengan kemewahan itu) dan kamu binasa seperti mereka".

     Oleh karena itu Allah swt. tidak memandang manusia dari kedudukan, kepangkatan, kekuasaan dan kekayaan seseorang; semua itu tiada arti bagi Allah kecuali takwanya, sebagaimana Allah firmankan dalam surah Hujurat ayat 13, yang artinya :

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat".

Allahu Akbar 3x, wa lillahil-hamd!

Hadirin yang dimuliakan Allah,

     Marilah kita lanjutkan pembangunan di segala bidang dalam era reformasi ini dengan berbekal kepada kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan kreativitas serta kecerdasan spiritual. Bukankah ketenangan jiwa dan rasa sejahtera hidup di dunia ini yang kita dambakan, dan bukankah pahala surga yang kita harapkan kelak di kemudian hari di alam akherat? Dan, bukankah Allah swt. telah berfirman sebagaimana tercantum dalam surah Al Fajr ayat 27-30, yang artinya :

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan dirihai Allah. Maka masuklah pada golongan hamba-hamba-Ku (yang sholeh) dan masuklah ke dalam surga-Ku".

Allahu Akbar 3x, wa lillahil-hamd!
Hadirin yang dimuliakan Allah,

     Pembangunan belum selesai dalam era reformasi ini, dan untuk itu diperlukan pengorbanan. Dalam hal pengorbanan untuk pembangunan sudah sewajarnya yang berkorban itu adalah mereka yang telah memperoleh kekayaan melimpah, dan bukannya rakyat yang hidupnya masih di bawah garis kemiskinan. Ingatlah akan firman Allah swt. sebagaimana tertera dalam surah Al Kautsar ayat 1-2, yang artinya :

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang serba banyak. Maka dirikanlah sholat untuk Tuhanmu dan berkorbanlah".

     Kita harus belajar dari kegagalan dan kesalahan di masa lampau dan tidak boleh mengulanginya di masa datang. Untuk itu semua marilah kita panjatkan doa sebagai bagian akhir dari khutbah ini.

Artinya : "Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat (siksa dari kejahatan) yang dikerjakannya".
(Mereka berdoa) : "Ya Tuhan kami, jangan Engkau hukum kami, jika kami lupa atau kami bersalah, dan janganlah Engkau bebankan kepada kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami".
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rakhmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".
"Wahai Tuhan kami, sungguh kami telah menganiaya diri kami sendiri, oleh karena itu bila Engkau tidak mengampuni kami dan tidak mengasihani kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang merugi".
"Aku Mohon ampunan kepada Allah  Zat Yang Maha Agung yang tiada Tuhan selain Dia, yang Maha Hidup, yang selalu mengatur waktu dan aku bertaubat hanya kepada-Nya".
"Ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orangtuaku dan limpahkanlah kasih sayang-Mu kepada mereka, karena merekalah yang memeliharaku dengan penuh kasih sayang ketika aku masih kecil”.
"Ya Allah ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia ini  dan berikanlah kebahagiaan bagi kami di akherat nanti. Dan selamatkanlah kami dari siksa api neraka".

Wabillahit taufiq walhidayah
Wassalamu'alaikum wr.wb.
 
DENGAN SEMANGAT BERKORBAN
KITA MASUKI PEMBANGUNAN
DALAM ERA REFORMASI

Khutbah Hari Raya Idul Adha 1428 H
di Masjid Baabut Taubah
Kemang Pratama

Oleh :
Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater
Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran UI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar