Senin, 24 Januari 2011

HINDARI HIV-AIDS, BUKAN DENGAN KONDOM

www.bimasislam.net

01 August 2007

HINDARI HIV-AIDS, BUKAN DENGAN KONDOM

Konstruksi kondom – salah satu alat kontrasepsi – dirancang hanya untuk menahan masuknya sperma, bukan untuk menangkal virus. Demikian disampaikan oleh Prof. Dr. Dr. H. Dadang Hawari, Psi, dalam acara ”Pengajian Eksekutif” di Masjid Istiqlal, 28 Juli lalu.
Penularan HIV/AIDS terbanyak melalui perzinaan (seks bebas, pelacuran, homoseksual, dan perselingkuhan). Namun penyakit menakutkan ini bisa juga ditularkan melalui transfusi darah, jarum suntik, dan bayi melalui tali pusat. Virus HIV banyak terkonsentrasi pada liang senggama, sperma, dan darah, demikian Dadang yang memulai ceramahnya dengan mengutip surah Al-Isra, 17:32 yang artinya : ”janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji..... dst”.

Tentang kondom itu sendiri, Dadang menjelaskan bahwa benda itu terbuat dari karet (latex) yang merupakan senyawa hydrocarbon dengan polimerisasi yang berserat dan berpori-pori. Besarnya pori-pori kondom dalam keadaan tidak meregang adalah 1/60 mikron dan pada saat meregang bisa lipat sepuluh kali. Dengan pori-pori yang hanya bisa dilihat dengan elektron mikroskop itu kondom direkomendasi untuk menahan sperma saat senggama. Sedangkan virus HIV yang ukurannya hanya 1/250 mikron dipastikan mudah lolos melalui pori-pori kondom. Di sini Dadang ingin mengatakan, bahwa kondom tidak aman untuk mencegah penularan penyakit HIV/AIDS.

”Untuk KB saja, kegagalan kondom mencapai 20%, apalagi untuk pencegahan migrasi virus”, ungkap Dadang lagi. Lebih jauh diungkapkan, bahwa di Indonesia setiap tahun terjadi 3,5 juta kehamilan yang tidak diinginkan. Tentunya sekian persen di antaranya karena kegagalan kontraseptif kondom.

Dadang Hawari memberi kiat mengindari penularan virus menakutkan itu antara lain : Hindari perbuatan yang mengarah kepada perzinaan, misalnya fornografi dan fornoaksi; Hindari perzinaan, termasuk perzinaan dengan teman selingkuh tetap yang diyakini bebas virus. Virus bisa bebas, tapi azab menanti; hati-hati dalam bertransfusi darah.

Yang perlu diwaspadai juga adalah fenomena komunitas penderita HIV/AIDS yang ingin mencari teman senasib baru. Beberapa waktu lalu beberapa media pernah mengungkapkan adanya upaya menyuntikkan jarum suntik yang sudah terinfeksi kepada orang lain di tempat umum, di kursi bioskop yang dipasangi jarum, di pusat perbelanjaan, dan bahkan di sekolah. Bagi korban yang tertular virus di luar kemauan dan kemampuannya, Dadang menganjurkan untuk meningkatkan kesabaran dan ketawakkalan. Selain terapi medis, solat, doa, dan zikir diyakini dapat meningkatkan kekebalan tubuh, demikian menurut Dadang Hawari. (hq)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar