Senin, 24 Januari 2011

IDUL FITRI MOMENTUM INTROSPEKSI


IDUL FITRI MOMENTUM INTROSPEKSI

Prof. Dr. dr. H. Dadang  Hawari, Psikiater

"Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa"
(Q.S. Al Baqarah, 2 : 183)

 Assalamu’alaikum wr. wb.
Allahu Akbar 9x

Pendahuluan
      Hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri 1428 H yang kita rayakan dengan cara mensyukuri nikmat-Nya, karena hanya atas perkenan-Nya-lah kita semua dapat merayakannya; dan insya Allah kita masih dapat berjumpa kembali pada bulan Ramadhan yang akan datang dan dapat menyelesaikan ibadah puasa serta merayakan Idul Fitri 1428H.

     Idul Fitri yang berarti kembali kepada fitrah sesuai dengan firman Allah swt dalam surat Ar Ruum ayat 30, yang artinya :
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan bagi ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Q.S. Ar Ruum, 30 : 30).

     Kembali kepada fitrah artinya kembali kepada kesucian, karena pada dasarnya fitrah manusia adalah suci, bersih tiada noda dan dosa, bagaikan bayi yang baru dilahirkan. Ibadah puasa pada hakekatnya adalah pensucian diri, penghapusan kesalahan dan dosa yang dilakukan manusia. Rasa bersalah dan berdosa merupakan beban mental yang tidak baik bagi kesehatan jiwa, oleh karena itu dengan puasa manusia kembali disucikan sebagaimana hadis Nabi Muhammad saw, yang artinya :
"Barang siapa yang telah menjalankan ibadah puasa dengan sempurna serta ikhlas karena Allah semata, maka Allah mengampuni dosa-dosa tahun sebelumnya" (H.R. Bukhari dan Muslim).

 Allahu Akbar 3x

Agar Manusia Bertaqwa
     Perintah puasa sebagaimana yang diwajibkan dalam surat Al Baqarah ayat 183 di atas tidak lain dimaksudkan agar manusia bertaqwa kepada-Nya. Manusia sepanjang perjalanan hidupnya tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa yang dilakukan baik yang sengaja maupun yang tidak, baik dalam hubungannya dengan Tuhan (hablum min Allah) maupun dengan sesama manusia (hablum minan naas). Oleh karena itu, puasa yang diperintahkan bagi orang-orang yang beriman dimaksudkan agar manusia bertaqwa kepada Allah swt, artinya patuh menjalankan perintah-Nya dan takut melanggar larangan-Nya. Dan untuk mencapai derajat ketaqwaan seseorang puasa adalah sarananya, karena hakekat puasa adalah pengendalian diri untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah swt dan melakukan amal sholeh sebagaimana yang diperintahkan; agar dengan demikian manusia senantiasa berada di jalan yang lurus yaitu fitrah.

     Oleh karena itu umat Islam setelah berpuasa sebulan penuh lamanya pada akhirnya kembali lagi pada fitrahnya, yaitu kesucian yang jatuh pada 1 Syawal yang diperingati dan dirayakan serta disyukuri sebagai Hari Raya Idul Fitri dengan menjalankan ibadah sholat yaitu sholat Idul Fitri. Dari uraian di atas, maka hubungan vertikal dengan Allah swt (hablum min Allah) sudah kembali kepada fitrah yang artinya Allah telah mengampuni segala dosa yang telah dilakukan manusia terhadap-Nya. Lalu bagaimanakah hubungan dengan sesama manusia (hablum minan naas)? untuk itu kesempatan pada Hari Raya Idul Fitri manusia saling maaf memaafkan.

     Perihal taqwa ini menjadi ukuran bagi seseorang sejauh mana derajat kemuliannya di sisi Allah sebagaimana yang difirmankan dalam surat Al Hujuraat ayat 13, yang artinya :
"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat" (Q.S. Al Hujuraat, 49 : 13).

Allahu Akbar 3x
    
Puasa Mencegah Perbuatan Keji dan Munkar
     Hakekat puasa adalah pengendalian diri. Seseorang yang sehat jiwanya adalah orang yang mampu mengendalikan diri,  tidak hanya  tidak makan dan tidak minum; tetapi ia dapat mengendalikan diri untuk tidak melakukan perbuatan keji dan munkar. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw, yang artinya :
"Puasa itu bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum. Akan tetapi sesungguhnya puasa itu ialah mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang kotor dan keji" (H.R. Bukhari dan Muslim).

    Dan apabila puasa yang dijalankan itu dapat mengendalikan dirinya, maka ia bagaikan baru pulang dari medan peperangan dengan membawa kemenangan. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw, yang artinya :
"Sesungguhnya peperangan terbesar di muka bumi ini adalah peperangan melawan hawa nafsu dirinya sendiri" (H.R. At Tirmidzi).

     Bentuk perbuatan keji dan munkar yang dilarang Allah swt yang dengan berpuasa kita dapat mencegahnya yaitu penyakit masyarakat yang dikenal sebagai gangguan mental dan perilaku, yaitu MO-LIMO (5-M) yang artinya Madat (Narkoba), Minum (Minuman keras), Main (Berjudi), Maling (Korupsi) dan Madon (Perzinaan/pelacuran).

Allahu Akbar 3x

Madat (Narkoba)
     Zat narkoba  ini haram hukumnya dari segi agama maupun UU. Penyalahgunaan narkoba mengakibatkan kerugian bagi diri si pemakai, keluarga dan pada gilirannya masyarakat, bangsa dan negara. Seseorang yang mengkonsumsi narkoba akan mengalami gangguan mental dan perilaku akibat terganggunya sinyal penghantar saraf  pada susunan saraf pusat (otak). Dewasa ini diperkirakan 4 juta orang terlibat penyalahgunaan narkoba, angka kematian 17,16%, komplikasi medik berupa kelainan paru 53,5%, kelainan fungsi liver 55,10%, hepatitis C 56,63% dan HIV/AIDS 33,33% (Hawari, 1999).

     Larangan mengkonsumsi narkoba ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar r.a., yang artinya sebagai berikut :
"Setiap zat, bahan atau minuman yang dapat memabukkan dan melemahkan adalah khamar dan setiap khamar adalah haram" (H.R. Abdullah bin Umar r.a.).

Allahu Akbar 3x

Minum (Miras/minuman keras)
     Minuman keras (khamar) sudah jelas dilarang oleh Allah swt sebagaimana difirmankan dalam surat Al Maidah ayat 90-91 dan Al Baqarah 219, yaitu yang artinya  :
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi (berkorban untuk berhala), mengundi nasib dengan panah, adalah perbuaan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan" (Q.S. Al Maidah, 5 : 90).

"Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu karena (memimum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat. Maka berhentilah kamu  (dari mengerjakan pekerjaan itu)" (Q.S. Al Maidah, 5 : 91).

"Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah : "Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya" (Q.S. Al Baqarah, 2 : 219).

     Sebagaimana halnya dengan madat, miras juga mengganggu sinyal penghantar saraf pada susunan saraf pusat (otak) yang mengakibatkan gangguan mental dan perilaku. Sebanyak 58% perkosaan, pembunuhan dan kerusuhan di bawah pengaruh minuman keras (Adler, 1991). Kecelakaan lalu lintas di bawah pengaruh minuman keras merupakan penyakit besar ke-4 setelah penyakit jantung koroner, kanker dan gangguan jiwa. Komplikasi medik miras antara lain penyakit liver (cirrhosis hepatis). Sebagai contoh misalnya di Amerika Serikat setiap tahunnya tidak kurang dari 20.000 jiwa mati karena penyakit liver tersebut sebagai komplikasi konsumsi miras. Kecelakaan lalu lintas akibat miras mencapai 25.000 jiwa setiap tahunnya, kematian akibat bunuh diri dan pembunuhan akibat miras merenggut 15.000 jiwa setiap tahunnya. Atau dengan kata lain  60.000 jiwa mati sis-sia akibat miras (Cahalan dan Cissin, 1987). Contoh lain di Thailand kematian karena penyakit liver mencapai 20.472 jiwa. Kenaikan kematian karena kecelakaan lalu lintas akibat miras mencapai 170% dan 30% dari tempat tidur di rumah-rumah sakit dihuni oleh pasien-pasien akibat kecelakaan lalu lintas tersebut di atas (WHO/SEARO, 1998). Di Indonesia belum ada penelitian kematian/kecelakaan yang berkaitan dengan miras. RUU Miras yang diajukan pada tahun 1985 hingga sekarang tidak diketahui kelanjutannya.

Allahu Akbar 3x

Main (Judi)
     Sebagaimana halnya dengan miras larangan judi juga terdapat dalam surat Al Maidah ayat 90-91 dan Al Baqarah ayat 219. Perjudian merupakan proses pemiskinan baik secara individual, keluarga dan masyarakat. Tatanan sosial ekonomi menjadi kacau karena modal usaha terserap dalam permainan judi yang pada gilirannya menghancurkan sistem ekonomi yang rasional. Dari sudut ilmu kesehatan jiwa para penjudi mengalami gangguan jiwa yang disebut obsesif-kompulsif. Pikiran mereka terpaku pada judi meskipun secara rasional ia menyadari bahwa judi itu merugikan, namun ia tidak kuasa untuk menghindarinya. Sebagai akibatnya ia berjudi berulang-ulang terus-menerus sampai kalah habis-habisan.

Allahu Akbar 3x

Maling (Korupsi)
    Salah satu penyebab keterpurukan sosial ekonomi negara kita adalah karena korupsi yang sudah melampaui batas. Indonesia menduduki peringkat nomor 3 sebagai negara yang terkorup di dunia, dan salah satu negara penghutang terbesar di dunia. Besarnya hutang sedemikian rupa akibat korupsi itu, maka pembayaran hutang Indonesia kepada negara donor baru akan lunas dalam waktu 25 tahun; dan setiap bayi yang lahir sudah terbebani dengan hutang US $. 1,000.-
     Mengenai korupsi ini Nabi Muhammad saw sudah memperingatkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Amru bin Auf  r.a., yang artinya :
"Demi Allah ! Aku tidak mengkhawatirkan kemelaratan menimpa kamu. Tetapi yang aku khawatirkan ialah bila kemewahan dunia menimpa kamu sebagaimana orang-orang sebelum kamu ditimpa kemewahan dunia. Lalu kamu berlomba-lomba (dengan kemewahan) dan kamu binasa seperti mereka". (H.R. Amru bin Auf r.a.).

Allahu Akbar 3x

Madon (Perzinaan/pelacuran)
     Madon artinya "main perempuan" atau dengan kata lain perzinaan (seks bebas dan pelacuran). Larangan berzina terdapat dalam surat Al Israa' ayat 32 dan pelacuran dalam surat An Nuur ayat 33 serta pornografi dalam surat An Nuur ayat 30-31, yaitu yang artinya :
"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sejahat-jahat perjalanan" (Q.S. Al Israa, 17 : 32).

"Dan janganlah kamu paksa hamba-hamba perempuan kamu melacurkan diri, sedangkan mereka ingin terpelihara, disebabkan kamu menginginkan harta benda dunia. Dan barang siapa memaksa mereka, maka sesudah paksaan itu sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Q.S. An Nuur, 24 : 33).

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; dan katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya" (Q.S. An Nuur, 24 : 30-31).

     Akibat perzinaan ini yang semakin meluas dan dianggap biasa di masyarakat, maka Tuhan memberi peringatan dengan munculnya penyakit HIV/AIDS. HIV/AIDS adalah penyakit kelamin yang mematikan; disebut penyakit kelamin karena penularannya/ penyebarannya 95,7% melalui perzinaan (seks bebas dan pelacuran), disebut mematikan karena hingga sekarang dan 10 tahun mendatang belum ditemukan obatnya. Penggunaan kondom ternyata tidak 100% aman dan tetap haram hukumnya dalam perzinaan. Dalam kaitannya dengan merebaknya perzinaan di masyarakat maka salah satu provokator lainnya adalah NAZA (Narkotika, Alkohol & Zat Adiktif) dan pornografi. Di luar negeri  sudah ada UU Anti Pelacuran; di Indonesia sendiri RUU Anti  Pelacuran yang diajukan sejak 1979 hingga sekarang tidak  diketahui nasibnya. RUU Pornografi yang diajukan pada tahun 2001 belum ditindak lanjuti. Baik pelacuran maupun pornografi adalah suatu bentuk eksploitasi seksual komersial atas kaum wanita, merupakan bentuk pelanggaran HAM, merendahkan martabat, derajat dan harkat kaum wanita. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, Al Bazzar dan Baihaqi,  yang artinya :
“Apabila perzinaan sudah meluas di masyarakat dan dilakukan secara terang-terangan (dianggap biasa), maka infeksi dan penyakit mematikan yang sebelumnya tidak terdapat pada nenek-moyangnya, akan menyebar diantara mereka”. (H.R. Ibn Majah, Al Bazzar dan Baihaqi).

Allahu Akbar 3x

Penutup
     Setelah menjalani puasa sebulan penuh, maka pada hari ini kita melakukan introspeksi; apakah puasa yang kita lakukan itu  karena Allah swt semata dan dilakukan dengan benar. Momentum introspeksi ini penting dalam rangka evaluasi diri apakah kita sebagai rakyat biasa, atau sebagai pemimpin atau sebagai aparat, kita telah dapat mengendalikan diri terhadap hawa nafsu kita sendiri, agar kita terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Dan, sebagai pahalanya Allah swt akan mengampuni dosa-dosa kita sebagaimana hadis Nabi Muhammad saw yang menyatakan :
"Barang siapa yang telah menjalankan ibadah puasa dengan sempurna serta ikhlas karena Allah semata, maka Allah mengampuni dosa-dosa tahun sebelumnya" (H.R. Bukhari dan Muslim).

"Sesungguhnya peperangan yang terbesar dimuka bumi ini adalah peperangan melawan hawa nafsu dirinya  sendiri" (H.R. At Tirmidzi).

     Marilah sejak saat ini kita saling menyayangi sesama kita, hal ini sesuai dengan 2 buah hadis Nabi Muhammad saw yang menyatakan :
"Belumlah seseorang itu dikatakan beriman, kalau orang itu tidak menyayangi orang lain sebagaimana dia menyayangi dirinya sendiri" (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kalau seseorang itu seorang pemimpin, maka bunyi kalimatnya menjadi :
"Belumlah seorang pemimpin itu dikatakan beriman, kalau pemimpin itu tidak menyayangi rakyatnya sebagaimana dia menyayangi dirinya sendiri".


Hadis lain menyatakan :
"Belumlah seseorang itu dikatakan beriman, kalau orang itu tidur lelap karena kekenyangan, sementara tetangganya tidak dapat tidur karena kelaparan" (H.R. Bukhari dan  Muslim).

Kalau seseorang itu seorang pemimpin, maka bunyi kalimatnya menjadi :
"Belumlah seorang pemimpin itu dikatakan beriman, kalau pemimpin itu tidur lelap karena kekayaannya, sementara rakyatnya tidak bisa tidur karena kemiskinannya".

     Semoga Allah swt mengampuni dosa para pemimpin dan melimpahkan taufiq hidayah serta bimbingan-Nya dalam melaksanakan amanah yang dipercayakan oleh rakyat kepadanya.

Allahu Akbar 3x
Hadirin yang kami muliakan,
Marilah kita akhiri khutbah Idul Fitri ini dengan memanjatkan doa ke hadlirat Allah swt., sebagai berikut :

“Ya Allah Ya Tuhan kami,
Kami panjatkan puji dan syukur ke hadlirat-Mu atas segala rahmat-Mu yang telah memberi kesempatan kepada kami menunaikan sholat idul fitri.
Ya Allah Ya Tuhan kami,
Kami menyadari bahwa kami adalah hamba yang dhoif, banyak kealpaan, banyak kesalahan dan banyak dosa yang terlakukan; untuk semua itu Ya Allah ampunilah dosa dan kesalahan kami.
Ya Allah Ya Tuhan kami,
Ampunilah kesalahan dan dosa kedua orangtua kami dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami di waktu masih kecil.
 Ya Allah Ya Tuhan kami,
Ampunilah kesalahan dan dosa saudara-saudara kami, handai taulan kami, kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat.
Ya Allah Ya Tuhan kami,
 Ampunilah kesalahan dan dosa para pemimpin kami dan berilah hidayah-Mu agar dalam mengemban amanah rakyat senantiasa dijalan yang lurus dan benar.
Ya Allah Ya Tuhan kami,
Janganlah Engkau berikan beban kepada kami dengan beban yang kami tidak kuat memikulnya.
Ya AllahYa Tuhan kami,
Janganlah Engkau berikan cobaan kepada kami yang kami tidak mampu mengatasinya.
Ya Allah Ya Tuhan kami,
Hanya kepda Engkaulah kami menyembah dan mohon tolong. Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus yaitu jalan dari orang-orang yang telah Engkau anugerahkan kenikmatan kepada mereka; bukan jalan dari orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula dari orang-orang yang sesat”.

Wabillahittaufiq walhidayah
Wassalamu’alaikum wr.wb.


(Disampaikan pada khutbah Idul Fitri 1428 H, di Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar